Breaking
Loading...
Recent Posts

Bonus Demografi Dalam perdagangan bebas-MEA

Apa keuntungan MEA bagi negara-negara Asia Tenggara?

Riset terbaru dari Organisasi Perburuhan Dunia atau ILO menyebutkan pembukaan pasar tenaga kerja mendatangkan manfaat yang besar.

Tak terasa sekarang kita semua sudah berada pada pertengahan tahun 2015 dan beberapa hari lagi kita akan memasuki babak baru yaitu di ujung tahun 2015 Ini akan di mulai perdagangan bebas, Dan pada tahun 2015 akan ada suatu perubahan pada negara-negara ASEAN. Setahun dari sekarang atau lebih tepatnya pada tanggal 31 Desember 2015, di ASEAN akan berlaku suatu pasar bebas yaitu Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 yang bisa disingkat MEA 2015. MEA 2015 sendiri adalah suatu pasar tunggal yang dibentuk di kawasan Asia Tenggara dan sudah disepakati oleh para petinggi ASEAN lebih dari satu dekade yang lalu. Dengan adanya MEA 2015 nantinya memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat. Masyarakat Ekonomi Asean tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional,

MEA 2015  merupakan bentuk realisasi dari tujuan akhir integrasi ekonomi di kawasan Asia Tenggara dan diharapkan nantinya bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi setiap negara di ASEAN termasuk Indonesia. Dan dalam meningkatkan perekonomian suatu negara tidak bisa lepas dari faktor kependudukan di negara tersebut karena penduduk mempunyai peran penting dalam menggerakkan perekonomian suatu negara. Salah satu contohnya adalah pendapatan negara yang berasal dari pajak tiap penduduk dan juga banyaknya jumlah penduduk yang bekerja (produktif). Oleh karena itu dalam menghadapi MEA 2015 Indonesia harus bisa memaksimalkan keuntungan dari jumlah penduduknya, seperti yang kita tahu bahwa Indonesia menduduki peringkat ke empat dalam negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, dan menduduki peringkat pertama di Asia Tenggara. Yang mana menurut Sensus Penduduk tahun 2010 yang dilakukan oleh BPS, jumlah penduduk Indonesia sebanyak 237.641.326 jiwa, dan jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 15,2% dari jumlah penduduk pada saat sensus penduduk sebelumnya yaitu sensus penduduk tahun 2000 dengan jumlah penduduk 206.264.595 jiwa. Walaupun mempunyai jumlah penduduk yang banyak, Indonesia tidak bisa lepas dari permasalah kependudukan. Antara lain masalah tingkat pendidikan yang masih rendah dan terbatasnya lapangan pekerjaan yang berimbas pada besarnya jumlah pengangguran masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan sampai saat ini. Pertambahan kuantitas penduduk perlu dibarengi dengan peningkatan kualitas penduduk itu sendiri agar jumlah penduduk yang tinggi tidak menjadi beban negara.

Solusi

1) Langkah pendekatan untuk membangun industri sapi potong yang tangguh menghadapi MEA 2015

Pertama, perlu adanya keputusan politik dari pemerintah untuk membangun industri sapi potong dalam negeri khususnya untuk membantu petani menghadapi MEA 2015. Dalam ketentuan Pasal 36 B ayat 1, diatur bahwa impor ternak dan  produk hewan boleh dilakukan bila produksi dan pasokan ternak serta daging di dalam negeri belum mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat. Syarat tersebut antara lain memperoleh izin menteri teknis, memenuhi syarat teknis kesehatan hewan,  bebas dari penyakit menular sesuai syarat otoritas veteriner, dan memenuhi ketentuan  perundangan di bidang karantina hewan. Namun haruslah dibarengi dengan kemauan yang besar dari para pelaku bisnis sapi potong baik di segmen hulu maupun hilir.

2) Mengatasi Masalah Ketersediaan Dan Kualitas Pakan Sapi Dengan Teknologi Hi-Fer

Upaya pencapaian program swasembada daging sapi selain memerlukan ketersediaan bibit/bakalan sapi, juga adanya kesiapan penyediaan pakan yang cukup dan berkelanjutan dengan mutu yang memadai serta harga murah. Ketersediaan pakan yang belum memadai mengakibatkan terjadinya kesulitan dalam  peningkatan populasi ternak sapi. Ketersediaan hijauan pakan di Indonesia merupakan tema utama yang menjadi pembatas perkembangan ternak. Salah satu komponen pakan yang utama adalah hijauan karena hijauan merupakan  bahan pakan utama (lebih dari 80 persen dari total bahan kering). Jumlah ternak sapi pada tahun 2011 sebanyak 14,8 juta ekor dan meningkat sekitar 0,07 persen pada tahun berikutnya (Ditjennak, 2012). Jumlah tersebut tergolong sangat banyak diperkirakan untuk mendukung  program swasembada daging sehingga perlu adanya program maupun upaya  penyediaan pakan hijauan berkelanjutan. Secara perkiraan potensi ketersediaan pakan sangat tinggi, baik yang berasal dari hijauan maupun limbah pertanian. Hal tersebut dimungkinkan karena didukung oleh ketersediaan sumber daya lahan tanaman  pangan, perkebunan, dan kehutanan.

Dalam menghadapi MEA 2015, Indonesia mendapat anugrah berupa bonus demografi yang akan menjadi sebuah kesempatan bagi Indonesia untuk bisa meningkatkan perekonomiannya. Bonus demografi sendiri adalah suatu keadaan dimana penduduk dengan umur produktif (usia 15-64 tahun) sangat besar sementara usia muda (dibawah 15 tahun) semakin kecil dan usia lanjut (diatas 64 tahun) masih belum banyak. Bonus demografi tersebut diprediksi akan terjadi pada tahun 2020-2030 sesuai dengan proyeksi penduduk oleh BPS, dimana pada saat itu MEA 2015 sudah diberlakukan. Saat Indonesia mendapat bonus demografi tersebut, usia penduduk usia produktif akan mencapai 70% dan dengan tingginya persentase tersebut diharapkan dapat menurunkan angka ketergantungan penduduk yang tidak produktif . Dan menurut proyeksi, angka ketergantungan pada saat Indonesia mendapat bonus demografi tersebut mencapai titik terendah 44 per 100 yang artinya setiap 100 penduduk produktif (usia 15-64 tahun) akan menanggung 44 penduduk non produktif. Yang kemudian setelah tahun 2030, angka ketergantungan tersebut akan meningkat lagi karena proporsi penduduk lansia (tidak produktif) akan meningkat. Dan hal tersebut hanya terjadi satu kali dalam sejarah suatu penduduk, oleh karena itu sangat disayangkan jika Indonesia tidak bisa memanfaatkan bonus demografi yang akan datang.

Diperlukan peran serta pemerintah dan masyarakat terutama para generasi muda dalam memanfaatkan bonus tersebut agar tidak menjadi sampah demografi atau sebuah bencana. Dengan banyaknya penduduk usia produktif, diperlukan suatu kualitas dari penduduk tersebut untuk mengimbanginya. Masih ada waktu untuk mempersiapkan para generasi penerus yang nantinya akan menjadi penduduk usia produktif pada tahun 2020-2030 dan mereka akan menjadi harapan Indonesia ke depannya. Persiapan dalam menghadapi bonus demografi tersebut bisa dengan beberapa upaya seperti perbaikan sistem pendidikan dan pengembangan sektor ekonomi kreatif. Untuk saat ini sistem pendidikan di Indonesia masih perlu untuk dikaji ulang untuk pembenahan yang lebih baik, seperti penambahan ketersediaan sekolah di daerah-daerah yang masih kurang, fasilitas penunjang yang memadai, kuantitas dan kualitas tenaga pengajar, sistem pengajaran yang di efektif untuk menghadapi MEA 2015 seperti mengintensifkan penguasaan bahasa Inggris pada sekolah dasar dan menengah serta perguruan tinggi, dan sebagainya yang akan mendukung upgrading generasi penerus sebagai SDM yang unggul dan memiliki daya saing tinggi.

Kemudian pemberian kesempatan seluas mungkin untuk pengembangan sektor ekonomi kreatif bisa dijadikan sebagai suatu alternatif dalam menekan jumlah pengangguran, mengingat dengan penduduk produktif yang tinggi pada saat bonus demografi tidaklah mungkin semuanya akan terserap dengan mudahnya dalam sektor kerja formal apalagi dengan adanya pesaing dari negara lain. Selain itu diperlukan suatu penguasaan sistem informasi bagi setiap penduduk mengingat berkembangnya zaman yang semakin modern dan maju. Dan juga diperlukan peningkatan daya saing tenaga kerja Indonesia berupa softskills dan hardskills agar tidak kalah atau tergerser oleh tenaga kerja dari negara lain di ASEAN. Dalam dunia kerja nantinya sarjana Indonesia akan langsung berhadapan dengan sarjana di seluruh kawasan ASEAN. Maka dari itu diperlukan suatu persiapan lebih berupa kebijakan dari pemerintah yang mendukung bonus demografi dalam menghadapi pasar bebas di ASEAN.

Kesimpulan

Indonesia saat ini masih perlu mempersiapkan banyak hal untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN(MEA) dalam bidang peternakan, khususnya  peternakan sapi. Kurang seriusnya bisnis peternakan di Indonesia menyebabkan  produksi peternakan di Indonesia masih belum memadai program swasembada daging Sapi untuk masyarakat Indonesia sendiri. Selain kurang seriusnya lingkungan bisnis  peternakan sapi di Indonesia, banyak kendala yang ditemukan dalam pengembangan di bidang tersebut antara lain Biaya Transportasi yang mahal, Petani minim informasi dalam mengembangkan industri sapi, dan biaya pakan tinggi.

Saran

Pemerintah harus mempertegas keseriusan dalam menghadapi masalah dalam  perkembangan di bidang industri sapi potong di Indonesia. Hal tersebut dibutuhkan untuk meminimalisir impor daging sapi dan mempersiapkan petani-petani Indonesia untuk menghadapi MEA. Pemerintah harus mulai meningkatkan standar operasi perindustrian sapi di Indonesia dengan cara pemberian sertifikasi kepada daging lokal, Pemberian informasi terhadap cara mengembangkan industri peternakan sapi yang benar kepada  petani-petani, dan pembenahan jalur transportasi untuk memudahkan pendistribusian  produk sapi. Komersialisasi inovasi dalam produk peternakan juga harus dilakukan. Inovasi seperti pakan ternak Hi-Fer+ temuan IPB seharusnya dapat menjadi standar pakan ternak di industri peternakan Indonesia.

Inilah masalah penduduk di indonesia dan solusinya

Negara Indonesia yang memiliki semua sumber daya alam yang begitu kaya, dan juga memiliki sumber daya manusia,tetapi sayang, sepertinya belum muncul ke permukaan 100%,dan sampai saat ini masih banyak yang belum tergali, sehingga Negara Indonesia ini terkesan lambat dalam proses pembangunannya. Dengan jumlah penduduk yang terus meningkat pada setiap tahunnya, Negara Indonesia ini belum juga mampu menyejahterakan semua penduduknya dengan baik. Berbagai dampak atas banyaknya penduduk yang belum sejahtera akan mengakibatkan berbagai persoalan yang berhubungan dengan kependudukan.

Indonesia, sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar nomor empat di dunia, mempunyai peluang untuk menjadi negara maju dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Dengan jumlah penduduk mencapai 250 juta jiwa pada saat ini, dan akan terus meningkat setiap tahunnya, didukung dengan sumberdaya alam yang melimpah, maka peluang tersebut menjadi sangat besar untuk membawa Indonesia menjadi negara maju di masa mendatang. Ditambah dengan berbagai kebijakan pemerintah yang membuka kran investasi sebesar-besarnya membuat Indonesia berpeluang menjadi negara maju dengan pertumbuhan ekonomi diatas 10 persen.

Adapun masalah-masalah kependudukan yang dialami oleh Indonesia antara lain :

1. Permasalahan Kuantitas Penduduk di Indonesia

Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan kuantitas penduduk sebagai berikut :



a.     Pertumbuhan Penduduk Indonesia

Peningkatan penduduk dinamakan pertumbuhan penduduk. Angka pertumbuhan penduduk Indonesia Lebih kecil dibandingkan Laos, Brunei, dan Filipina.

b.      Jumlah Penduduk Indonesia

Besarnya sumber daya manusia di Negara Indonesia ini dapat dapat di lihat dari jumlah penduduk yang ada. Jumlah penduduk di Indonesia berada pada urutan keempat terbesar setelah Negara Cina, India, dan Amerika Serikat.



Diperkirakan pada tahun 2035 nanti jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 305,6 juta jiwa yang merupakan peningkatan sebesar 28,6 persen dari tahun 2010 yang sebesar 237,6 juta jiwa. Dan jika banyaknya jumlah penduduk ini tidak dibarengi dengan lapangan dan kualitas mutu pekerjanya maka ini juga dapat membuat ancaman bagi negara Indonesia untuk mencapai kemakmurannya, bukan hanya itu tetapi ini juga akan menyebabkan di Indonesia semakin banyaknya pengangguran. Namun jika ini dapat dikekola dan dirancang kembali secara sistematis dan komprehensif oleh pemerintah, maka akan membuat Indonesia bergerak untuk meningkatkan perekonomiannya.

c.     Susunan penduduk Indonesia

Sejak sensesus penduduk tahun 1961, piramida penduduk Indonesia berbentuk limas atau ekspansif. Artinya pada periode tersebut, jumlah penduduk usia muda lebih banyak daripada penduduk usia tua. Susunan penduduk yang seperti itu memberikan konsekuensi terhadap hal-hal berikut :

–          Penyediaan lapangan pekerjaan bagi penduduk kerja.

–          Penyediaan fasilitas social lainnya yang mendukung perkembangan penduduk usia muda.

–          Penyediaan fasilitas kesehatan.

–          Penyediaan fasilitas pendidikan bagi anak usia sekolah.


d.      Kepadatan penduduk Indonesia

Kepadatan penduduk merupakan perbandingan jumlah penduduk terhadap luas wilayah yang dihuni. Ukuran yang digunakan biasanya adalah jumlah penduduk setiap satu km2 atau setiap 1mil2. permasalahan dalam kepadatan penduduk adalah persebarannya yang tidak merata. Kondisi demikian menimbulkan banyak permasalahan, misalnya pengangguran, kemiskinan, kriminalitas, pemukiman kumuh dsb.

Upaya-upaya Pemecahan Permasalahan :

1)     Pemerataan Persebaran Penduduk,

Dilakukan dengan cara transmigrasi dan pembangunan industri di wilayah yang jarang penduduknya. Untuk mencegah migrasi penduduk dari desa kekota, pemerintah mengupayakan berbagai program berupa pemerataan pembangunan hingga ke pelosok, perbaikan sarana dan prasarana pedesaan, dan pemberdayaan ekonomi di pedesaan.

2)     Pengendalian terhadap jumlah dan pertumbuhan penduduk,

Dilakukan dengan cara menekan angka kelahiran melalui pembatasan jumlah kelahiran,menunda usia perkawinan muda, dan meningkatkan pendidikan.

2. Permasalahan Kualitas Penduduk di Indonesia

Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan kualitas penduduk dan dampaknya terhadap pembangunan adalah sebagai berikut :

a.      Masalah Tingkat Pendidikan

Keadaan penduduk di negara-negara yang sedang berkembang tingkat pendidikannya relatif lebih rendah dibandingkan penduduk di negara-negara maju, demikian juga dengan tingkat pendidikan penduduk Indonesia.Rendahnya tingkat pendidikan penduduk Indonesia disebabkan oleh:

    Tingkat kesadaran masyarakat untuk bersekolah rendah.
    Besarnya anak usia sekolah yang tidak seimbang dengan penyediaan sarana pendidikan.
    Pendapatan perkapita penduduk di Indonesia rendah.

Dampak yang ditimbulkan dari rendahnya tingkat pendidikan terhadap pembangunan adalah :

    Rendahnya penguasaan teknologi maju, sehingga harus mendatangkan tenaga ahli dari negara maju. Keadaan ini sungguh ironis, di mana keadaan jumlah penduduk Indonesia besar, tetapi tidak mampu mencukupi kebutuhan tenaga ahli yang sangat diperlukan dalam pembangunan.
    Rendahnya tingkat pendidikan mengakibatkan sulitnya masyarakat menerima hal-hal yang baru. Hal ini nampak dengan ketidakmampuan masyarakat merawat hasil pembangunan secara benar, sehingga banyak fasilitas umum yang rusak karena ketidakmampuan masyarakat memperlakukan secara tepat. Kenyataan seperti ini apabila terus dibiarkan akan menghambat jalannya pembangunan.

Upaya-upaya Pemecahan Permasalahan :

1)      Pencanangan wajib belajar 9 tahun.

2)      Mencanangkan gerakan orang tua asuh.

3)      Memberikan beasiswa bagi siswa yang berprestasi.

4)      Meningkatkan mutu guru melalui penataran-penataran.

5)      Menyempurnakan kurikulum sesuai perkembangan zaman.

6)      Mengadakan proyek belajar jarak jauh seperti SMP Terbuka dan Universitas Terbuka.

7)      Meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan (gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, dan lain-lain).


b.     Masalah Kesehatan

Tingkat kesehatan suatu negara umumnya dilihat dari besar kecilnya angka kematian, karena kematian erat kaitannya dengan kualitas kesehatan. Kualitas kesehatan yang rendah umumnya disebabkan:

    Kurangnya sarana dan pelayanan kesehatan.
    Kurangnya air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
    Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan.
    Gizi yang rendah.
    Penyakit menular.
    Lingkungan yang tidak sehat (lingkungan kumuh).

Dampak rendahnya tingkat kesehatan terhadap pembangunan adalah :

    Terhambatnya pembangunan fisik karena perhatian tercurah pada perbaikan kesehatan yang lebih utama karena menyangkut jiwa manusia.
    Jika tingkat kesehatan manusia sebagai objek dan subjek pembangunan rendah, maka dalam melakukan apa pun khususnya pada saat bekerja, hasilnya pun akan tidak optimal.

Upaya-upaya Pemecahan Permasalahan :

1)     Mengadakan perbaikan gizi masyarakat.

2)     Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.

3)     Penyediaan air bersih dan sanitasi lingkungan.

4)     Membangun sarana-sarana kesehatan, seperti puskesmas, rumah sakit, dan lain-lain.

5)     Mengadakan program pengadaan dan pengawasan obat dan makanan.

6)     Mengadakan penyuluhan tentang kesehatan gizi dan kebersihan lingkungan.

c.      Masalah Tingkat Penghasilan/Pendapatan

Tingkat penghasilan/pendapatan suatu negara biasanya diukur dari pendapatan per kapita, yaitu jumlah pendapatan rata-rata penduduk dalam suatu negara. Negara-negara berkembang umumnya mempunyai pendapatan per kapita rendah, hal ini disebabkan oleh:

    Pendidikan masyarakat rendah, tidak banyak tenaga ahli, dan lain-lain.
    Jumlah penduduk banyak.
    Besarnya angka ketergantungan.

Berdasarkan pendapatan per kapitanya, negara digolongkan menjadi 3, yaitu:

    Negara kaya, pendapatan per kapitanya > US$ 1.000.
    Negara sedang, pendapatan per kapitanya = US$ 300 – 1.00.
    Negara miskin, pendapatan per kapitanya < US$ 300.

Dampak rendahnya tingkat pendapatan penduduk terhadap pembangunan adalah:

    Rendahnya daya beli masyarakat menyebabkan pembangunan bidang ekonomi kurang berkembang baik.
    Tingkat kesejahteraan masyarakat rendah menyebabkan hasil pembangunan hanya banyak dinikmati kelompok masyarakat kelas sosial menengah ke atas.

Upaya-upaya Pemecahan Permasalahan :



1)     Menggiatkan usaha kerajinan rumah tangga/industrialisasi.

2)     Memperluas kesempatan kerja.

3)     Meningkatkan GNP dengan cara meningkatkan barang dan jasa

4)     Menekan laju pertumbuhan penduduk.

5)     Merangsang kemauan berwiraswasta.

Adapun tujuan lain yaitu : agar masyarakat/anak didik dapat mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan pertumbuhan penduduk secara cepat serta segala akibatnya maupun dapat menghubungkan antara pertumbuhan penduduk tersebut dengan program pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah dalam usaha mencapai kesejahteraan masyarakat. Maka diharapkan mereka dapat menyesuaikan hal itu dalam kehidupan keluarga masyarakat bangsa dan manusia pada umumnya.

 
Copyright © 2015. how lifestyle KDI INDONESIA 20152015